Selasa, 19 Februari 2008

Jajanan diwaktu pagi dan pisang pasir diwaktu sore

PAGI HARI

Jam masih menunjukkan 06.15, dan hujan masih mengguyur Jakarta belahan Selatan, bis sawangan merayap pelan menuju pintu tol Pinang untuk selanjutnya akan melaju di jalan tol BSD menuju kantor.
Tiba-tiba pak kodir (Mas Yudi) kasih pengumuman.
"Hallo ... hallo. Ini Bu Endang bawa makanan, tapi ngak gratis loh, 1 kue harganya 1000 rupiah, dan akan kita masukan pendapatannya utk uang kas. Ayo... ayo.. siapa yg mau ... siapa yg mau ... seribuan ... seribuan" Lantang suara pak kodir jalan disela-sela kursi.
Yah, kalau untuk urusan perut kayanya rekan-rekan semua ngak ada kompromi deh, sikat terus, urusan ngak punya uang kecil itu belakangan, yang penting makan dulu.

(Martabaknya muantap .... tapi ngomong-ngomong mana aqua-nya nih, usulan dari mas Boy, kayanya bis kita harus punya stock aqua, atau minimal bawa dari rumah masing-masing deh. Jadi kalau kebetulan ada yang bawa kue (dengan catatan ditawarin loh - jgn gr dulu) bisa utk minum kalau seret, dan jika kebetulan ngak ada yg bawa kue dan perut lagi kelaparan, yah minum aja tuh aqua dari rumah , double fungsi kan)

Bis pun melaju kembali dengan kecepatan yg masih kasat mata, belum lagi tiba dikantor mbak Yani kasih pengumuman, siapa yang mau pesen pisang pasir nanti sore. (weleh, urusan perut lagi nih). Ngak ada salahnya lah kita coba pesan, sekalian mau tau rasanya kaya apa sih, (pisang digoreng sama pasir atau pasir digoreng sama pisang).

Sebelum landing di Cengkareng, seperti biasa pak kodir memberikan beberapa pengumuman, tapi kayanya pengumuman kali ini ngak usah di expose deh, - milik pribadi bis sawangan -.


SORE HARI

Jam baru saja menunjukkan pukul 16.50, ketika bis sawangan take-off dari landasan pacu GOC. Setelah seharian kita penat bekerja, akhirnya pulang juga.
"Gimana mbak Yani, jadi ngak pisang goreng pasirnya ?"
"Jadi loh, 1 pisang 2000 rupiah"
Cabut dompet lagiii.



Khusus untuk di bis, bu Nita selaku bendahara harus rogoh kocek kas 50.000, masing-masing boleh mencicipi 1 pisang, masih kurang ??
"Yah makan aja milik masing-masing, masa mesti dibayarin lagi sih" komentar bu bendahara.

Tidak ada komentar: