Ketika malam tambah jauh berjalan menuju fajar, saya langsung teringat belum membuat renungan untuk minggu ini. Lantas apa yang akan saya tulis itu cukup menyita pikiran juga. Tapi entah kenapa saya langsung teringat kejadian jauh dibelakang hari.
Ketika itu saya sedang meniti ilmu yang diamanatkan perusahaan untuk masa depan, dan bersahabat cukup erat dengan salah satu dosen, yang kebetulan beliau memberikan mata kuliah yang berhubungan dengan "Tuhan".
Pada saat itu sedang gencar-gencarnya orang membicarakan masalah "anak asuh". Banyak orang berlomba-lomba untuk mencari pahala atau sekedar unjuk pamer, ramai-ramai mengambil anak asuh.
"Entah ikhlas atau tidak itu bukan urusan, yang penting banyak anak-anak bangsa tertolong untuk melanjutkan pendidikan, dimana kita tahu biaya pendidikan di negara ini butuh biaya yang tidak masuk akal". Tapi yang jelas tulisan ini tidak akan membahas anak asuh apalagi masalah GN ORTA yang sudah tidak tahu rimbanya lagi, masalah itu sudah porsinya pemerintah, tapi tulisan ini memang ada hubungannya dengan anak.
Saya pun larut dengan sang mahaguru berdiskusi masalah fitrah dari seorang anak. Dari berkali-kali pertemuan dan beberapa referensi buku yang kami beli, yang kadang juga diselingi dengan debat keras dan adu argumen, akhirnya kami dapat mengumpulkan dan menyimpulkan beberapa fitrah dari seorang anak. Ini memang tidak tersurat langsung didalam ayat-ayat suci Al-Qur'an maupun ucap dan tindak Rassullah, jadi mungkin bersifat universal, dengan kata lain bisa diambil oleh semua orang yang mempunyai aqidah yang berbeda.
Adapun beberapa fitrah dari seorang anak dapat di simpulkan sebagai berikut :
- Menginginkan perlindungan dan bimbingan.
- Cenderung lebih mengidolakan bapak.
- Cenderung lebih dekat dengan ibu.
- Membanggakan prestasi orang tua.
- Prihatin bila orang tua sesat.
- Tidak senang bila tidak dipercayai oleh orang tua.
- Tidak senang dianak tirikan oleh orang tua.
- Membela martabat orang tua.
- Senang mendapatkan restu dan doa dari orang tua.
- Cenderung mengikuti jejak orang tua.
- Senang membahagiakan orang tua.
- Senang diperlakukan secara dewasa oleh orang tua.
- Kurang bersabar merawat orang tua yang telah lanjut.
- Lebih senang memilih jodohnya sendiri.
- Menyadari pengorbanan dari orang tua setelah usia diatas 40 tahun.
(parakan dago medio 1995 - Bandung)
Eddy Purwadi
Eddy Purwadi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar